
19.30

liqok muda kalitidu
,
0 Comments
Mataku mulai berkaca-kaca, menahan tetesan air yang hendak jatuh ke pelupuknya. Meski tidak merasakan langsung, meski bukan melihat tayangan utuh. Hanya sedikit gemuruh semangat yang bisa saya lihat dari rekaman video yang di downloadsuamiku.

19.10

liqok muda kalitidu
,
0 Comments
By Nurul F Huda (ditulis di blognya pada 7 Mei 2009)
Maukah kali ini anda saya ajak berbagi? Berbagi pengalaman yang meski terkesan personal bukan tidak mungkin nilai dan nuansa emosional yang terkandung di dalamnya sangatlah universal. Sekali-kali saya bukan ingin memanfaatkan ruang publik ini untuk kepentingan pribadi, tetapi saya meyakini bahwa tak ada pengalaman yang dialami oleh satu pribadi kecuali hal tersebut berguna sebagai cermin bagi orang lain.
Itulah mengapa ada penulis, ada sejarawan, ada antropolog, arekeolog, bahkan perawi hadist (untuk urusan terakhir ini memang bukan sekedar sejarah karena penelusuran keautentikannya yang hingga menelusuri kualitas alur penuturnya).

19.04

liqok muda kalitidu
,
0 Comments
Ya Allah Engkau tahu
Hati-hati ini telah
Berkumpul dalam cinta-Mu
Bertemu dalam taat-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkan ikatannya
Dan abadikan cintanya
Tidak ada penjelasan historis tentang suasana yang melatari Imam Syahid Hasan Al Banna saat menulis potongan doa itu. Ia menyebutnya Wirid Pengikat. Pengikat hati. Hati yang sedang dibangunkan untuk memikul beban kebangkitan umat. Beban mereka berat. Jumlah mereka sedikit. Musuh mereka banyak. Jadi mereka butuh landasan yang kokoh dan pengikat yang kuat. Landasannya adalah iman. Pengikatnya adalah cinta.

19.01

liqok muda kalitidu
,
0 Comments
Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.
Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana.